Nulis ah!

Tulis pa ja yang mo kau tulis.

AHLAN WA SAHLAN

Puisi adalah jiwa. Luapan perasaan. Dalam puisi ada cinta, nostalgia, ideologi, dan rasa syukur.


Tulislah apa yang ada di pikiranmu. Luapkan dalam coretan-coretan indahmu. Dan sepuluh tahun lagi mungkin kau akan tertawa atau bahkan mungkin coretan itu akan menjadi sebuah memori yang mahal. menjadi sebuah cerita tersendiri yang bisa dikenang. Yups, selagi kita masih bisa menulis, kenapa kita tidak meluapkannya dalam coretan-coretan? Meskipun coretan itu hanya bisa kita nikmati sendiri (hehe... menghibur diri ni?)

Pernah frustasi gara-gara karyamu gak pernah diterima? Nasiiib... nasiiib. Kalo iya, berarti kamu senasib dong ma aku. Asiiik ada temen senasib nih! Ceritanya aku lagi frustasi nih lianna (kan biasanya pake coz, sekarang ganti lianna ja biar lebih..... apa ya? lebih bernuansa kearaban gitu deh! Biar ga English mulu!) puisiku ga diterima di majalah yang pernah kukirim, akhirnya bikin blog sendiri ja deeeh. Yaah, nikmati sendirilah.

Tenanglah...

Jika ada orang bicara mengenai kita di belakang..., itu adalah tanda bahwa kita sudah ada di depan...
Saat orang bicara merendahkan diri kita..., itu adalah tanda bahwa kita sudah berada di tempat yan lebih tinggi...
Saat orang bicara dengan nada iri mengenai kita..., itu adalah tanda bahwa kita sudah jauh lebih baik dari mereka...
Saat orang bicara buruk mengenai kita, padahal kita tidak pernah mengusik kehidupan mereka..., itu adalah tanda bahwa kehidupan kita sebenarnya lebih indah dari mereka...

Ku bertanya pada malam
Ku bertanya pada bintang
Sedang apa kau duhai sayangku
*courtesy of LirikLaguIndonesia.Net
Di sini angin menyampaikan
Salammu salam sayang
Salam sejuta cinta dan rindu
Sabar sabar sabarlah sayangku
Semua ini kan cepat berlalu
Sebutlah namaku di setiap nafasmu
Ku kan datang kepadamu sayang
Panggil panggil aku segenap rasamu
Dan rasakan aku membelaimu
Pejamkanlah matamu
Dan kau tenangkan hatimu
Dan kau rasakan aku memelukmu
Sabar sabar sabarlah sayangku
Semua ini kan cepat berlalu
Sebutlah namaku di setiap nafasmu
Ku kan datang kepadamu sayang
Panggil panggil aku segenap rasamu
Dan rasakan aku membelaimu
(sebutlah namaku di setiap nafasmu
Ku kan datang kepadamu sayang
Panggil panggil aku segenap rasamu
Dan rasakan aku membelaimu)
Sebutlah namaku di setiap nafasmu
Ku kan datang kepadamu sayang
Panggil panggil aku segenap rasamu
Dan rasakan aku membelaimu

Hujan

Hujan…
Hujan memang memberikan sensasi yang berbeda.
Entahlah
Aku menyukainya
Dan kali ini kunikmati hujan sambil mendengarkan lagu bunda milik Mayada
Lagu ini kuputar khusus untuk my mom tercinta di rumah
I love you mom
You are my everything

Mampukah aku untuk tetap dan terus menyayangi kedua orangtuaku hingga akhir hayat mereka nanti?
Ya Rabb, Berikanlah kekuatan kepada hamba untuk terus berbakti dan menyayangi bapak ibu hamba
Merawat mereka di usia lanjut mereka
Membahagiakan mereka

Ya Rabb, jangan sampai ada perkataan maupun sikap hamba yang menyakiti kedua orangtua hamba.
Ya Rabb, berikanlah kesabaran kepada hamba juga kepada kedua orangtua hamba.
Ampunilah dosa-dosa kedua orangtua hamba
Sayangilah kedua orangtua hamba
Berikanlah kesehatan dan keselamatan serta kebahagiaan pada kedua orangtua hamba
Berikanlah ketenangan batin dan sifat lapang dada pada kedua orangtua hamba
Rukunkanlah kedua orangtua hamba
Berikanlah kemudahan pada kedua orangtua hamba dalam mendapat rizki-Mu
Sayangilah kedua orangtua hamba
Jauhkanlah kedua orang tua hamba dari siksa-Mu
Masukkanlah kedua orangtua hamba ke dalam surga
Ya Rabb, pertemukan hamba bersama kedua orangtua hamba di surga kelak.
Amin.
Ya Rabb, sesungguhnya Engkau Maha Pengasih, Maha Penyayang, Maha Pendengar do’a hamba-hamba-Mu.
Kabulkanlah permohonan dan do’a hamba.
Amin ya Robbal ‘alamiin.



6 Agustus 2011
                Hari ini aku mendapat pelajaran yang sangat berharga. Pelajaran agar aku bersyukur. Agar aku tidak kufur nikmat.
            Yups, kala aku merasa sendiri menjalani hidup ini. Tak ada saudara maupun keluarga dekat yang menjengukku, seperti teman-temanku yang dikunjungi keluarganya, saudara-saudaranya, bulek pakliknya. Ah, ingin rasanya aku seperti itu. Dijenguk, dirangkul, dido’akan, hangat. Penuh dengan nuansa kekeluargaan. Saling menyayangi dan memperhatikan. “Kapan ya kakakku menjengukku?”, harapku sekilas. “Ah, aku tidak boleh egois. Semua punya kesibukan masing-masing.”, tepisku agar aku tetap berpositif thinking.
            Dan petang ini anak itu datang. Penuh dengan kesopanan. Kesopanan yang wajar. Tulus. Bukan pura-pura. Juga bukan untuk berPDKT ataupun caper.
            Zainab namanya. Oh, ternyata dia tidak sendiri. Ada orang lain di belakangnya. Zaitu. Awalnya kupikir mereka kembar. Eh, ternyata bukan. Tapi emang mirip banget.
            Zaenab dan zaitun. Ah, aku salut dengan mereka. Salut dengan prinsip yang mereka pegang. Kemandirian, kejujuran dan kesungguhan yang luar biasa. Kejujuran dan kesungguhan dalam belajar yang membuatku salut. Penuh dengan semangat dan pantang menyerah. Yups, mereka benar-benar hebat. Mereka jauh lenih kuat dariku.
            Ya, ketika aku berandai-andai dan merenungi diriku yang sendirian, Allah mengirimku sebuah cermin. Cermin yang bernama Zainab dan Zaitun. Agar aku berkaca pada mereka berdua. Seakan Allah berkata kepadaku, “Itu Lho Luk! Lihat! Renungkan! Zainab dan Zaitun yang tak pernah pulang selama empat tahun dan hanya dijenguk sekali! Bersyukur Luk! Bersyukur!”
            Dan akupun asik berbincang dengan mereka. Mendengar cerita dan kisah hidup mereka berdua. Cerita tentang bapak ibu mereka. Mereka daftar ke pondok diantar Bapaknya, dan hanya ditunggui satu jam, setelah itu langsung ditinggal. Kok hampir mirip ya denganku. Daftar langsung ditinggal. Segala perlengkapan urus sendiri. Cari teman. Urus sama temannya. Mungkin biar mandiri.
            Terimakasih ya Rabb atas pelajaran hidup yang sangat berharga yang kau berikan pada hamba petang ini.

 



Hujan,
Sore ini hujan mengguyur bumi. Aku asik membaca majalah Gontor. Membaca pidato Ustadz KH. Imam Zarkasyi. Subhanallah, pribadi yang luar biasa. Ah, mampukah aku seperti beliau? Ikhlas berjuang dalam kondisi apapun. Amin. Semoga aku bisa menjadi pribadi seperti beliau.
            Selesai membaca pidato ustadz KH. Imam Zarkasyi, aku menemukan sebuah artikel menarik tentang manfaat madu yang sungguh luar biasa. Dan pikiranku melayang. Ya, madu. Beberapa bulan yang lalu temanku membeli madu satu botol dengan harga 30.000. Kata yang menjual sih itu madu asli. Yah, namanya juga manusia. Demi uang ada saja yang tega menghalalkan kebohongan untuk mengisi perut. Untuk uang. Untuk dunia. Kata my teacher, madu yang benar-benar asli itu mahal harganya. Satu botol kecil saja bisa mencapai dua ratusan ribu.
            Aku jadi ingat, dulu ibuku pernah makan madu. Benar-benar asli baru diambil dari “unthuk” lebah. Di samping rumah tetanggaku ada sarang lebah madu. Trus madunya diambil. Ibuku dikasih. Suruh meres sendiri, katanya. Setelah minum madu efeknya langsung demam.
            Yang terpikirkan olehku saat ini adalah, bagaimana caranya aku bisa menjadi peternak lebah madu? Lalu aku menjualnya dengan harga yang murah tanpa campuran sedikitpun, jadi semua kalangan bisa merasakan manfaat madu. Bukan hanya orang yang berkantong tebal saja. Selanjutnya aku akan membuat klinik herbal tanpa bahan kimia sedikitpun. Semua memakai cara-cara seperti yang pernah dilakukan oleh Rasulullah. Aku akan menanam berbagai jenis tanaman obat. Dan pastinya pupuknya benar-benar pupuk organik. Tak akan kubiarkan tanamanku disentuh oleh pestisida. Berarti aku harus menemukan cara terbaik dan alami untuk menangkal hama tanaman.
            Selanjutnya aku akan memproduksi makanan dan buah-buahan yang sehat tanpa pengawet. Aku juga akan menjual bibitnya untuk mengatasi jenis buah-buahan yang mudah busuk. Jadi setiap orang bisa menanam di rumahnya. Bisa menikmati buah-buahan tanpa menggunakan bahan pengawet.
Aku juga akan membuat pasta gigi dan perlengkapan lainnya. Semua halalan thoyyiban. Menyehatkan. Bagi siapa saja yang mau belajar cara pembuatannya, aku akan dengan senang hati mengajarkan. Jika aku tak sempat mengajarkan, ada rekan kerjaku yang akan menjelaskan.
            Lalu aku juga akan beternak ayam, kambing dan sapi perah. Semuanya tanpa bahan kimia. Makanannya alami. Tanpa suntikan ataupun sentrat yang membuat mereka cepat gemuk.
            Aku juga akan memiliki sawah berhektar-hektar yang ditanami padi. Tentunya padi yang tanpa pupuk kimia dan bebas pestisida. Padi yang jika dimasak, akan menjadi nasi yang menyehatkan.
            Hmmm…. Aku sadar, saat ini aku hanya bermimpi. Namun, aku yakin mimpi itu akan menjadi kenyataan. Kalaulah mimpi itu tidak terjadi  padaku, aku yakin akan ada orang lain yang berhasil mewujudkan mimpiku tersebut. Yups, tentunya semua itu tak lepas dari ketentuan dan kehendak Allah.
            Coba deh perhatikan semua makanan yang kamu makan sehari-hari, dan barang-barang yang kamu pakai. Mulai dari nasi. Sudahkah nasimu bebas dari racun? Jawabnya BELUM! Tahukan kau, berapa banyak pestisida yang diserap oleh padi, hingga tak seekor ulat pun sudi memakannya? Ulat saja tak mau memakannya, tapi anehnya manusia dengan nikmat melahapnya.
            Ikan. Yakinkah dirimu bahwa ikan yang kamu makan itu bebas formalin? Berapa lama ikan tersebut berada di kapal? Satu minggu? Dua mingu? Bahkan bisa sampai dua puluh hari. Apa benar para nelayan di tengah laut sana tidak membawa bekal formalin? Apa benar ikan-ikan itu hanya diawetkan dengan es dan garam? Ah, aku tidak yakin. (Maaf bapak-bapak nelayan, bukannya aku jahat kepadamu, juga bukannya aku tak percaya padamu, juga bukan berarti aku sok benar, tapi sungguh aku hanya ingin kemaslahatan. Agar tidak ada yang dirugikan. Agar semua bernilai ibadah.)   
            Dan sungguh mengenaskan kala aku melihat ada yang begitu menikmati ikan-ikan dan daging yang telah berbulan-bulan mendekam dalam kaleng. Kalaulah ikan-ikan itu bisa bicara, aku yakin mereka pasti akan berteriak “HEI, JANGAN MAKAN AKU, AKU SUDAH BERLUMURAN RACUN! TIDAKKAH KAU BISA MERASAKAN FORMALIN YANG TERSERAP DI TUBUHKU?! STOP! JANGAN MAKAN AKU!”
            Juga buah-buahan itu. Mereka bilang buah-buahan import. Anggur merah import. Apel merah import. Ah, cobalah petik buah anggur dari pohonnya. Lalu biarkan tanpa bahan pengawet. Tahan berapa lama buah itu? Dan tidakkah kau pikir, buah anggur merah, jeruk, apel merah dan sebagainya itu didatangkan dari luar negeri sampai hadir di hadapanmu, berapa lama waktunya? Apalagi buah-buahan yang mendekam di dalam kaleng? Benarkah jika buah-buahan itu dimasukkan ke dalam kaleng akan tetap segar selama berhari-hari bahkan berbulan-bulan? Ah, aku gak yakin.
            Hmm… susahnya cari makanan sehat.
           

Masa Lalu



Masa lalu
Bukan sekedar waktu
Ada sejarah beradu
Rasuki memoriku juga memorimu
Senyum
Juga tangis pilu

Bolehlah ditengok sebentar
Berkaca tuk melangkah ke depan
Agar lebih dewasa
Ingat, hanya sebentar
Tak usah lama-lama
Biarkan ia lewat bersama masa
Karna ia hanya kaca spion dalam sepeda
Jangan terlena menatap kacanya
Ada jalan yang harus kau tempuh di depan
Jalan yang menetukan masa depan


 
Malam ini kutatap langit
Ia tersenyum manis
Ceria
Ribuan bintang berpesta
Ah, jutaan… trilyunan… tak terhingga
Kabarkan keagungan-Nya
Subhanallah
Allahu akbar
Ets, kurasa bintang-bintang itu lebih dari sekedar berpesta
Bisa jadi mereka sedang berdzikir memuji-Nya

Kakak Galang



 
             “Kakak..., aku dapat juara satu...!”, Teriakku kepada Kak Galang yang tengah menyambutku di depan rumahku.
            “Alhamdulillah, Tos dulu!”, kami berdua saling mengangkat tangan kanan. Tos!
            “Terimakasih Kak.”, aku duduk di kursi depan rumah melepas sepatu bututku. Kak Galang duduk di sampingku. “Ini semua karena Kak Galang yang menjadi pelatihku. Kalau tidak, mana mungkin aku bisa menang.” Yup, aku menjadi juara 1 lomba catur PORSENI di kabupaten.
            “Itu karena usaha dan kerja kerasmu berlatih. Jadi Allah memberikan kemenangan padamu.”, jawab Kak Galang sambil mengusap kepalaku. Ah, Kak Galang memang selalu bijak dan dewasa. Tidak seperti aku yang  kekanak-kanakan.
            Kak Galang usianya 4 tahun lebih tua dariku. Sekarang dia sudah duduk di bangku kelas 2 SMA 1 Lamongan. Sedangkan aku masih duduk di kelas 1 SMP Muhammadiyah 3 Lamongan juga. Sebenarnya Kak Galang bukanlah kakak kandungku. Rumahnya berada tepat di samping rumahku. Jadi kami terlihat akrab sekali. Kami sering bermain bersama sepulang sekolah. Kak Galang mengajariku banyak hal. Memanjat pohon jambu air di depan rumah, memancing ikan di sungai, bermain badminton, catur, sampai bermain sepak bola. Ssstt... rahasia, jangan bilang-bilang ibu, nanti aku bisa kena marah, eh, bukan marah deng.Nanti aku bisa dinasehati puanjaang... sepanjang rel kereta api. Hehehee. Kak Galang juga yang telah mengajariku naik sepeda. Meskipun aku jatuh berkali-kali tapi Kak Galang terus memberiku semangat. Aku bahkan sudah menganggapnya seperti kakakku sendiri.
            Sebenarnya aku juga punya seorang kakak, tapi juga bukan kakak kandung.  Satu Bapak beda ibu. Kami tinggal di kota yang berbeda. Kakakku tinggal bersama ibunya. Aku tinggal bersama ibuku. ayah kami sudah tiada sejak aku masih berumur 5 tahun. Aku hanya tinggal berdua bersama ibuku.
            “Kak, aku ingin menjadi pemain catur tingkat nasional, boleh?”, tanyaku polos.
            “Tentu saja boleh. Jangankan tingkat nasional, tingkat dunia juga bisa.”
            Ya, Kami hanya dua anak desa yang mempunyai mimpi setinggi langit. Entah sampai kapan mimpi itu akan terus bertahan. Semoga mimpi itu tidak bertahan lama, dan segera berubah wujud menjadi kenyataan. “Amin”, do’aku dalam hati.


---------------------

            Teman-temanku bilang, sekarang aku berbeda. “Tambah alim aja Rin”, begitu ucap seorang temanku ketika kami bertemu dalam acara reoni SMP di sekolah.
            “Apaan? sama aja. Tambah error, iya...”, balasku.
            Tapi kurasa aku memang sedikit berbeda. Lihatlah penampilanku. Aku bahkan tidak memberi sedikit celah pun kepada rambutku untuk menatap dunia luar. Jilbab lebarku menutupnya kaffah. Kaos kaki yang kukenakan juga membuatku sedikit berbeda. Masih mending ini aku tidak memakai cadar. hehee...
            Kutatap teman-temanku dulu. Ah, hampir semuanya telah berkeluarga. Bahkan sudah banyak yang membawa momongan. Mereka sekarang bukan lagi anak-anak kecil yang dulu ingusan, ileran, i..., i apa aja dech, terusin sendiri ya.  Apalagi yang perempuan. Tinggal aku yang masih jomblo. Di usiaku yang ke 23 tahun ini aku masih saja menjomblo. Eh, gak juga deng. Sebentar lagi aku juga akan menikah. O iya, aku belum cerita ya.
            Beberapa hari lalu, tepatnya dua hari yang lalu, seorang pria melamarku. Seorang ikhwan. Tentu saja aku menerima. Perempuan mana yang mau menolak seorang ikhwan yang sholeh seperti dia. Sholeh, mapan lagi. Ia melamarku setelah kita menjalani proses ta’aruf satu bulan. Sebenarnya aku sudah mengenalnya cukup lama. Tapi tidak dekat. Hanya sebatas tahu saja. Mungkin sekitar dua tahunan. Ketika aku masih semester 4. Hanya saja kami jarang bertemu dan jarang berinteraksi. Dia sibuk menempuh program S2 di Yaman. Dan sebulan yang lalu, dia datang ke rumah. Tepat setelah aku menyelesaikan program S1ku. Dia juga telah menyelesaikan program S2nya. Ia Ingin mengenal lebih dekat, katanya. Selanjutnya kami bertukar biodata. Anehnya kami bahkan tidak pernah jalan keluar berdua. Jangankan jalan keluar berdua, ngobrol berduaan dengannya saja jarang. Aku sungguh tidak menyangka kalau dia yang akan menjadi suamiku nanti. Beruntung sekali aku mendapatkan suami seorang ikhwan seperti dia.
            Getar hpku menyadarkanku dari lamunan. ada sms dari kak Galang, “Setelah acara selesai, segera pulang ya dek... Kakak tunggu di rumah.”
            “Lho, bukannya Kak Galang masih di Jakarta? Kapan pulangnya? Kok di rumah? Katanya seminggu lagi baru pulang?”,Tanyaku dalam hati. Selesai SMA, kak Galang mendapat beasiswa kuliah di perguruan tinggi. Dia mengambil jurusan teknik sipil. Ujung-ujungnya dia bekerja di perusahaan kontraktor terkenal di Jakarta.
            Sedangkan aku, boro-boro menjadi pemain catur tingkat nasional. Selesai SMP, aku melanjutkan sekolah ke pondok yang berada di luar kota. Butuh waktu hampir 5 jam naik turun bis dari desaku ke pondok. Selesai belajar di pondok, aku melanjutkan kuliah di pondok itu juga. hehehee... Setelah lulus kuliah, aku langsung mengajar di SD di desaku. Baru sebulan aku mengajar di SD tersebut.
            Setelah membaca sms dari kak Galang, aku terbayang-bayang rumah. Terbayang kak Galang tepatnya. Ingin cepat pulang. Ingin melihat mukanya. Hampir delapan tahun, sejak aku belajar di pondok, aku tidak pernah melihatnya. “Apa aku pulang dulu aja ya? ah, gak enak sama teman-temanku.” Tapi kalau begini aku juga tidak tenang. Jasadku disini bersama teman-temanku, tapi jiwaku di rumah. Aku kangen kak Galang. Sebenarnya lebih dari itu. Aku ingin menyampaikan berita gembiraku. Aku ingin memberitahu dia bahwa dua hari yang lalu ada seorang pria yang melamarku. Aku ingin bilang kalau ucapan kak Galang memang benar, “Tidak usah hawatir Dek, yakin, serahkan pada-Nya, jodoh itu sudah ditentukan oleh-Nya. Yang terpenting kita selalu menjaga diri. Menjaga hati. Menjaga izzah sebagai seorang muslimah. Taat kepada aturan-Nya.”

---------------

            “Kakaaak...” teriakku melihat sosok kak Galang berdiri di depan rumah. Kak Galang terlihat semakin ganteng. Hehehe...
            Kak Galang tersenyum menyambutku. Senyum yang selalu saja mampu menghapus kesedihanku. Ah, aku bahkan pernah berpikir ada mantra di balik senyumnya. hihihi...
            “Kapan datang? katanya seminggu lagi pulangnya?”, tanyaku
            “Suprise.”, Jawab kak Galang ringan.
            “Hmm!” Aku pura-pura cemberut.
            Kak Galang tertawa melihat ekspresiku. “Samaaa... aja. Gak berubah-berubah. Dasar anak kecil!”, Ucap kak Galang kepadaku. Tapi kali ini tidak sambil mengusap kepalaku. hehehe. Gak muhrim.
            Sejenak kami duduk terdiam di kursi depan rumah. Kursi yang dulu pernah kami duduki. Kursi yang turut menjadi saksi persahabatan kami. Kursi itu juga tak berubah. Seperti pertemananku dengan kak Galang yang tak pernah putus.
            “Aku punya berita gembira buat Kak Galang!”, aku mengawali pembicaraan yang ternyata bersamaan dengan ucapan kak Galang “Aku mau bicara sesuatu Dek.”
            Sekali lagi kami terdiam untuk beberapa detik.
            “Kak Galang aja dulu.”, aku mengalah.
            “Adek aja dulu.”
            “Enggak. Kak Galang aja dulu yang ngomong. Kali ini aku mau belajar mengalah.” ucapku.
            Aku menunggu kak Galang bicara. Satu detik... dua detik... lima detik... kok gak ngomong-ngomong.
            Aku menatapkak Galang, memberi isyarat “mau ngomong apa? kok diem?”
            Kak Galang menarik nafas.
            “Dek,”
            Aku tidak menjawabnya. Aku masih menunggu kata-kata berikutnya.
            “Adek mau menjadi pendamping hidup Kakak?”, Seperti ada petir menyambar ulu hati. Aku hanya terpaku. “Adek mau menemani perjuangan kakak?”, Kak Galang kembali mengulang pertanyaannya.
            Aku hanya mampu terdiam. Bukan hanya petir. Ada kilat, hujan deras ditambah ribuat belati menyayat hatiku. Pedih. Perih. Sakit. Mataku terasa panas. Ah, tidak, air mataku hendak keluar. Aku harus menahannya. Aku menunduk agar kak Galang tak melihat mataku yang berkaca-kaca.
            “Kakak minta maaf kalau Kakak terlalu terburu-buru. Sebenarnya telah lama Kakak berniat...”,Kak Galang tidak melanjutkan ucapannya.
            “Tidak harus dijawab sekarang kok Dek..., terserah adek kapan mau menjawabnya.”, lanjut Kak Galang.
            “Ya Rabb, inikah hidup. Ya Rabb, apa maksud semua ini? Ya Rabb tunjukkan kepada hamba jalan yang Engkau ridhoi.”, ujarku dalam hati.
            Petir, kilat, dan hujan deras mengguyur hatiku...
            “Seorang laki-laki dan perempuan tidak akan pernah bisa berteman. Pasti akan lebih dari itu. Pasti akan timbul rasa suka.”, ucapan seorang temanku menggaung di memoriku.
                 




Selera

Apa sih selera?
Mereka bilang “Ah, seleranya rendah.”
Apakah jika aku menyukai lagu-lagu Barat berarti aku berselera tinggi?
Dan jika aku menyukai lagu dangdut berarti seleraku rendahan?
Apakah dengan memiliki istri cantik berarti aku berselera tinggi?
Lalu bagaimana  jika istriku kurang cantik menurut mereka?
Apa dengan begitu mereka seenaknya menganggap seleraku murahan?
Apakah seleraku juga murahan jika aku hanya mengendarai motor butut?
Dan jika makanan favoritku bukan spageti atau steak, tapi hanya pisang goreng, apakah itu juga berarti seleraku kampungan?
Apakah dengan memakai jas dan dasi seseorang bisa mendapat stempel “selera tinggi”?
Jangan sampai kaca mata “Selera” membuat kita merendahkan orang lain.



Pernahkah Engkau sebel or benci ma seseorang?
Kuacungi jempol, empat jempol dech buat kamu yang gak pernah mengenal rasa sebel, jengkel, atau benci ma orang lain. Suer.
Bukannya Q sok atau gimana-gimana ya… tapi jujur, ku tu termasuk salah satu dari sekian orang yang gak suka pake banget-banget kuadrat punya perasaan sebel atau benci ma orang lain. Q tu maunya hidup tu… damai… tulus… saling menyayangi… gak usah dech marah-marahan, bad mood, apalagi diem-dieman ma orang lain.
Nah, parahnya nich… saat ini aku sengaja diem ma orang lain. Lho? Gimana tho? Ya gimana lagi coba.  Bukannya aku sok paling bener. Tapi suer, Q gak kuat cuy kalau kayak gini terus. Dah cukup hati ini menahan. Dah cukup sudah kesabaran ini (jadi inget kata mbak Waqi’, “Sabar itu tiada batas dek…”). Tapi kurasa kali ini sikap sabar bukan solusi yang paling tepat. Dan kurasa sabar itu juga ada tempatnya kali ya. Gak semua kondisi harus disikapi dengan sabar. Kalo kita dijajah n ditindas-tindas terus, masa harus sabar terus? Ya gak lah… dan kutemukan solusi yang kurasa tepat. Yup, solusi yang paling tepat adalah DIAM SERIBU BAHASA (Wuih… kayak apa aja nich). Gila, baru kali ini seumur hidupku aku berinteraksi ma orang yang kayak gini.
Hati… maafkan aku, kali ini kubiarkan kau membenci seseorang. Mulut… Lidah…. Maafkan aku, kali ini kubiarkan kau diam kepada seseorang. Aku membenci bukan tak beralasan. Aku diam pun bukan berarti tak beralasan juga. Aku membenci perangainya yang sering melukai hati orang lain. Aku membenci cara bicaranya yang ketus  melukai hati, membuat orang lain jadi naik darah. Sama sekali tiada  rasa sayang. Dari pada aku marah, lebih baik aku menganggapnya tiada.
So, cuekin, diemin aja.

Pages

Followers

Daily Calendar

About Me

My Photo
Akuu... Ini namaku Ini tanganku Ini kakiku Ini mataku Ini kepalaku Ini badanku Lalu.... mana aku? Siapa aku? Aku dimana? Aku yang mana?

Total Pageviews

IkanQ

Blog Archive